Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Hati yang Baper

Kalau ibu-ibu sudah berkumpul, tak bisa dihindari pasti, obrolan sampai kepembicaraan tentang orang lain. Nyerempet gibah. Seringkali ibu...

Kalau ibu-ibu sudah berkumpul, tak bisa dihindari pasti, obrolan sampai kepembicaraan tentang orang lain. Nyerempet gibah. Seringkali ibu-ibu mencari pembenaran, “Lho kan ngomonginnya untuk mencari solusi…”.Memang, membicarakan orang lain bisa jadi ‘beti’ (beda tipis) dengan menunjukkan kepedulian sosial. Suatu hari diantara kumpulan kami ada seorang ibu yang beberapa hari terakhir terlihat sensitif sekali, baper.

  Tentu saja langsung jadi subyek rumpian ibu-ibu. Semua baru saja jadi pengamat dan peramal, apa yang kemungkinan terjadi pada dirinya, bagaimana seharusnya dia bersikap, dan sebagainya. Intinya semua mengritiklah apa yang diatampilkan. 

Lalu ada seorang ibu yang bilang “Kita tanya aja yuk kedia sebetulnya ada apa sih?” Tentu saja usulnya membuat yang lain ramai merespon. “Ah, takut salah omong, nanti dia tersinggung…biarin aja deeeh”. “Takut ah, nanti dibilang mau tau aja urusan orang”. Diskusi akhirnya lebih produktif ketimbang gibah: mengerucut pada membicarakan diri masing-masing, maunya orang melakukan apa jika diri sendiri sedang baper.

Ada yang bilang senangnya ditanya, yang lain justru lebih senang tidak ditanya. Seorang ibu mengaku sebetulnya ingin sekali curhat kepada kami, tapi jika melihat kami asyik ngobrol soallain, dia tidak mau merusak suasana dan memilih diam. Terkejut kami mendengar ungkapannya. 

Sepertinya dia jenis perempuan yang tidak pernah punya masalah, ternyata oh ternyata, punya juga…. Menjaga Perasaan Kami akhirnya mencapai kesepakatan untuk saling memperhatikan dan menjaga perasaan masing-masing.

Langkahnya seperti ini: Jika ada di antara kami yang baper, yang lain memperhatikan dan bertanya tentang perasaan, yang bunyinya “…kamulagisedihya…” atau  menggunakan kata perasaan lain sepertisebal, kesal, dan sebagainya. Mengapa? 

Karena manusia senang sekali dikenali dan dipahami perasaannya. Jika perasaannya dikenali, ia akan merasa dihargai keberadaannya. Hindari pertanyaan yang berbunyi “…ada apa sih kok kelihatannya kamu sedih”, karena seringkali sulit mengungkapkan peristiwa atau hal yang membuat kita baper. Kanbisa saja itu rahasia atau makin membuat sedih jika dibicarakan lagi.

Jika pun orang yang sedang baper tidak mau menjawan pertanyaan tentang perasaan, ya yang bertanya tidak perlu ketularan baper, karena berarti orang tersebut belum siap menjawab jujur. BatasanKepo Menurut pengalamansaya, memangsulit menahan diri untuk kepo terhadap problem orang lain.

Pertanyaan “mengapa” “ada apa sih” lebih lancar meluncur dari bibir ketimbang pertanyaan yang bernada empati terhadap perasaan. Padahal pertanyaan itu tidak memberi hasil apa-apa, selain memuaskan penanya. Lalu apa dong batasan yang bisa kami lakukan? Kumpulan ibu-ibu rumpi ini akhirnya menyimpulkan bahwa jika kita  benar-benar empati pada orang itu, fokus pada kepentingan penanya. Jangan-jangan ia sangat butuh melepaskan emosi negatifnya. Perasaanseperti air.   

Ia butuh diberijalan agar mengalir. Jika tidak diberi got, ia akan muncrat kesana kemari tidak karuan. Jadi, kita bisa membantu dia menyediakan got. Pertanyaan berbunyi “…kamu sedang sedihya…” itu bisa jadi pintu masuk ke got. Di mulut got bisa jadi mampet karena banyak sampah berbagaiperasaan, sehinggabarangkali dia bilang “tidak” ketika ditanyabegitu, karena belum pas atau bahkan dia tidak bisa mengenali perasaannya.

Tebak saja terus dengan kata perasaan yang lain, misalnya sebel, kesal, kecewa, dansebagainya, sampai ia akhirnya tumpukan sampah itu buyar dan air bisa mengalir lancar. Jika perasaannya sudah mengalir, maka ia akan merasa sedikit lebih baik. Kita bisa  lanjutkan dengan bertanya“ …lalu sekarangapa yang kamupikirkan?” Lanjut lagi dengan pertanyaan“ …lalu sekarang apa yang kamu ingin lakukan?”. Sama sekali tidak ada pertanyaan tentang “mengapa”. 

Jika apa yang ia pikirkan dan inginkan benar dan aman bagidia, kita bisa dorong dia untuk membuat rencana bagaimana merealisasikannya. Sebaliknya, jika tidak benar dan tidak aman bagi dirinya, kita pertanyakan lagi dan lagi apakah itu benar-benar akan menghilangkan perasaan negatifnya dan apakah dia sudah pertimbangkan konsekuensinya? Selanjutnya, bantu teman baper kita membayangkan konsekuensinya.

Jika ia tetap ingin melakukan hal yang tidak benar dan tidak aman bagi dirinya, maka sebaiknya kita dorong ia mengunjungi konselor yang profesional. Demikianlah sharing pengalaman kami dikumpulan ibu-ibu doyan ngerumpi. Mudah-mudahan kami selalu mengingat  kesepakatan kami tersebut, danhati yang baperakanterbantudenganrumusanitu. Semangaaat!(*)

Sumber Majalah YM

COMMENTS

Name

Berita Cermin Edusiana Event informasi Karya Siswa Konsultasi Parenting Populer Prestasi
false
ltr
item
Official Sekolah Indonesia: Hati yang Baper
Hati yang Baper
https://2.bp.blogspot.com/-ewyZEpDZEoc/WDMWyjReiHI/AAAAAAAAAGo/5yrE1Sdfg1IC1Z0zT1eFtPq_FMxvfjPrgCLcB/s400/baper.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-ewyZEpDZEoc/WDMWyjReiHI/AAAAAAAAAGo/5yrE1Sdfg1IC1Z0zT1eFtPq_FMxvfjPrgCLcB/s72-c/baper.jpg
Official Sekolah Indonesia
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/hati-yang-baper.html
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/hati-yang-baper.html
true
4309508905467340601
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock