Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Komunikasi Hati

Dalam sebuah seminar parenting, seorang ibu mencurahkan kegundahan hatinya tentang anaknya yang tidak mau mendengarkan omongannya, apalag...

Dalam sebuah seminar parenting, seorang ibu mencurahkan kegundahan hatinya tentang anaknya yang tidak mau mendengarkan omongannya, apalagi mematuhi perintahnya. Narasumber ditanya bagaimana caranya membuat anak mau mendengarkan kembali dan menuruti perintah orang tua. 

Jawabannya adalah berupa pertanyaan, “Sudah berapa lama situasi itu terjadi?”
Jawaban si ibu, “Hmmm.. Udah lama bu...” Lalu sang narasumber bertanya lagi, “Kirakira berapa menit lamanya ibu ngobrol dengan dia setiap harinya?” Si ibu, “Hmmm... Berapa lamaa yaaa? Bangun pagi paling ... 10 menit ya... 

Bangunin dia, suruh dia sarapan, lalu malam pulang kantor saya baru ketemu dia, tanya PR sekolahnya ... Paling nonton tv bareng sebentar...lalu tidur...” Narasumber, “Pernahkah ibu ngobrol dengan dia lebih dari 10 menit?” 

Ibu, “Hmmmmm..... Saya gak pernah ngukur waktunya ... Tapi ngobrol lama paling-paling cuma pas dia minta uang ekstra ke saya, di luar uang saku rutinnya...” Narasumber, “Kapan ibu terakhir cerita-cerita sambil ketawa-ketawa seru bersama dia?” Ibu, “Hmmmm... Kapaan yaaa....? Lupa bu....dulu sekali mungkin ya... Ketika dia masih kelas 4.” Begitulah, lewat percakapan antara narasumber dan sang ibu, saya yakin Anda dapat membayangkan suasana sehari-hari seperti apa yang terjadi antara ibu dan anak. 

Hidup Sepi Dalam Keramaian Dalam keseharian, kita banyak bertemu dengan anak-anak seperti ini: anak-anak yang ditinggal kedua orang tuanya pergi bekerja, namun orang tuanya menuntut prestasi akademis demi masuk sekolah atau universitas bagus (dan kebanggaan orang tua?). Mereka hidup sepi dalam keramaian, jika menghadapi kesulitan tak ada waktu cukup untuk curhat, dan tidak percaya orang tuanya bisa menolong, jangan-jangan nanti justru kena marah.


Anak-anak ini lebih terampil berkomunikasi, berekspresi dan bergaul di sosmed, dengan resiko menghadapi bullying di internet. Mark Kastelman, seorang psikolog di Amerika Serikat yang meneliti tentang kecanduan pornografi, menyebut anak-anak seperti itu sebagai anak-anak yang mengalami BLAST: Boring, Lonely, Angry, Stress dan Tired. Menurut Mark, anak-anak BLAST beresiko menghilangkan kesuntukannya dengan mengakses pornografi, sehingga dirinya akan mengalami kesenangan. 

Kembali ke cerita ibu tadi, mudah-mudahan anaknya belum sampai mengalami BLAST, dan mudah-mudahan niat dan tekadnya kuat untuk memperbaiki komunikasi dengan sang anak. Langkah perbaikan yang bisa ia lakukan sederhana saja:

1. Sang ibu harus lebih banyak meluangkan waktu bicara dengan anaknya. Jika di pagi hari sulit ditambah, pada malam hari dan akhir pekan waktu ngobrol bisa diperpanjang.

2. Pesan yang dipertukarkan sebaiknya diperluas, bukan hanya soal-soal penting bagi orang tua, tapi juga hal-hal lain yang penting bagi si anak termasuk soal pergaulan, gadget, serta kegundahannya. Dalam percakapan, cek apa yang ia rasakan dan pikirkan tentang sesuatu, dan apa yang
hendak ia lakukan selanjutnya. 

3. Obrolan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk bercerita dan berdiskusi. 

4. Di luar 3 masalah di atas, ini yang penting: Sebelum membuka mulut, buka dulu mata dan hati untuk menangkap perasaan anak. Baca dulu perasaan yang tergambar dari ekspresi mukanya atau bahasa tubuhnya, dan terima dulu apapun perasaannya. Jika ia tampak gundah, bilang ke dia “Kamu sedang gelisah ya nak?” Jika orang tua dan anak tidak terbiasa ngobrol enak, mungkin anak tidak bereaksi seperti yang orang tua harapkan. Dia mungkin saja menanggapi dengan dingin, cuek atau bahkan bilang, “Apa sih ibu tanyatanya kayak gitu.” Sabar dan tenang, tidak perlu baper atau bahkan memarahinya. Stay cool, keep calm. Ingat-ingat saja, kapan terakhir kali Anda menyapa perasaannya. Kalau sudah lama tidak, apa yang bisa kita harapkan? Di waktu lain, lakukan lagi dan lagi sampai anak merasa bahwa orang tuanya sekarang menaruh perhatian lebih besar. 

5. Berdoa agar hubungan hati antara orang tua dan anak kembali terjalin, Allah jaga lisan kita agar anak mau mendengarkan kita, dan Allah gerakkan hati anak agar mau bicara dari hati ke hati dengan kita. Amiiin.


Sumber Majalah Yatim Mandiri

COMMENTS

Name

Berita Cermin Edusiana Event informasi Karya Siswa Konsultasi Parenting Populer Prestasi
false
ltr
item
Official Sekolah Indonesia: Komunikasi Hati
Komunikasi Hati
https://4.bp.blogspot.com/-LmvBkYG_h3k/WDJGyeqjbzI/AAAAAAAAAF8/xgSPzcEiaFg-s4LQmwRhoNzOF037duWCACLcB/s320/parenting%2B2.png
https://4.bp.blogspot.com/-LmvBkYG_h3k/WDJGyeqjbzI/AAAAAAAAAF8/xgSPzcEiaFg-s4LQmwRhoNzOF037duWCACLcB/s72-c/parenting%2B2.png
Official Sekolah Indonesia
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/komunikasi-hati.html
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/komunikasi-hati.html
true
4309508905467340601
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock