Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Makanan Pengantar Rasa (Sayang)

Ada beberapa cerita menarik tentang makanan yang kami bahas di antara kami akhir-akhir ini. Yang pertama adalah beberapa teman yang tidak ...

Ada beberapa cerita menarik tentang makanan yang kami bahas di antara kami akhir-akhir ini. Yang pertama adalah beberapa teman yang tidak makan nasi sama sekali. Ada teman yang anak remajanya diet nasi dan menggantinya dengan sumber karbohidrat lain, karena ingin punya badan yang aduhai. 

Ada juga yang… nah ini menarik: dia sedang melakukan penelitian mengenai adiksi, dan ingin merasakan apakah bisa orang lepas dari sesuatu yang adiktif sifatnya. Dia menilai dirinya selama ini tak bisa lepas dari nasi, sehingga dia bereksperimen tak makan nasi selama 1 bulan. Sukses? Ya, dengan susah payah. 

Cerita lain mengenai nasi adalah tentang anak teman kami, hampir 3 tahun usianya, yang tidak suka makan nasi dari kecil. Ia makan segalanya, kecuali nasi. Ibunya sudah membawanya kesana kemari, sampai suatu hari ia bertemu dokter yang melegakan. Kata dokternya, ya anak ibu ‘bule’, gak suka nasi. Tidak masalah selama dia makan cukup dan sehat. 

Tak semua orang tua setuju dengan pendapat dokter ini. Tanpa makan nasi, apalagi dalam masa pertumbuhan, anak tidak akan tumbuh dengan baik, menurut mereka. Akhirnya teman kami itu ‘dihujat’ di medsos. Teman lain bercerita bahwa anaknya tidak mau lagi makan frozen food karena dia pikir tidak sehat. Ada juga ibu yang pusing karena anaknya mempermasalahkan apakah makanan Jepang kecapnya halal. 

Seorang teman lain menceritakan bahwa anak-anak remajanya sulit ditanya ‘mau makan apa?” ketika mereka makan di luar. Tadinya sang ibu merasa sebal karena dia kira anak-anaknya malas berpikir. Namun, dengan dialog yang tenang, akhirnya sang ibu menemukan alasan yang sebenarnya: sang anak tidak memandang perlu makan apa, karena dia sudah mencoba hampir semua makanan di mal-mal di sekitar tempat tinggal mereka. 

Sekarang yang lebih penting adalah kumpul bersama keluarga, apapun makanannya. Beberapa teman saya menceritakan bahwa mereka juga sudah hilang keinginannya untuk makan sesuatu yang spesifik. Di antara obrolan itu, saya mencatat dua hal: saat ini banyak ibu-ibu yang membeli makanan di luar, bukan masak sendiri; dan anak-anak ternyata punya pendapat dan sikap sendiri tentang makanan. Ada beberapa cerita menarik tentang makanan yang kami bahas di antara kami akhir-akhir ini. Yang pertama adalah beberapa teman yang tidak makan nasi sama sekali. Ada teman yang anak remajanya diet nasi dan menggantinya dengan sumber karbohidrat lain, karena ingin punya badan yang aduhai. 


Ada juga yang… nah ini menarik: dia sedang melakukan penelitian mengenai adiksi, dan ingin merasakan apakah bisa orang lepas dari sesuatu yang adiktif sifatnya. Dia menilai dirinya selama ini tak bisa lepas dari nasi, sehingga dia bereksperimen tak makan nasi selama 1 bulan. Sukses? Ya, dengan susah payah. Cerita lain mengenai nasi adalah tentang anak teman kami, hampir 3 tahun usianya, yang tidak suka makan nasi dari kecil. Ia makan segalanya, kecuali nasi. Ibunya sudah membawanya kesana kemari, sampai suatu hari ia bertemu dokter yang melegakan. Kata dokternya, ya anak ibu ‘bule’, gak suka nasi. 

Tidak masalah selama dia makan cukup dan sehat. Tak semua orang tua setuju dengan pendapat dokter ini. Tanpa makan nasi, apalagi dalam masa pertumbuhan, anak tidak akan tumbuh dengan baik, menurut mereka. Akhirnya teman kami itu ‘dihujat’ di medsos. Teman lain bercerita bahwa anaknya tidak mau lagi makan frozen food karena dia pikir tidak sehat. Ada juga ibu yang pusing karena anaknya mempermasalahkan apakah makanan Jepang kecapnya halal. Seorang teman lain menceritakan bahwa anak-anak remajanya sulit ditanya ‘mau makan apa?” ketika mereka makan di luar. 

Tadinya sang ibu merasa sebal karena dia kira anak-anaknya malas berpikir. Namun, dengan dialog yang tenang, akhirnya sang ibu menemukan alasan yang sebenarnya: sang anak tidak memandang perlu makan apa, karena dia sudah mencoba hampir semua makanan di mal-mal di sekitar tempat tinggal mereka. Sekarang yang lebih penting adalah kumpul bersama keluarga, apapun makanannya. Beberapa teman saya menceritakan bahwa mereka juga sudah hilang keinginannya untuk makan sesuatu yang spesifik. Di antara obrolan itu, saya mencatat dua hal: saat ini banyak ibu-ibu yang membeli makanan di luar, bukan masak sendiri; dan anak-anak ternyata punya pendapat dan sikap sendiri tentang makanan.

COMMENTS

Name

Berita Cermin Edusiana Event informasi Karya Siswa Konsultasi Parenting Populer Prestasi
false
ltr
item
Official Sekolah Indonesia: Makanan Pengantar Rasa (Sayang)
Makanan Pengantar Rasa (Sayang)
https://3.bp.blogspot.com/-F46smN_KB8o/WDlJqhwQCEI/AAAAAAAAAJQ/dirqObmr0QYNHkLfPILgtum4ItSaNFIigCLcB/s320/untitled_design_all%2B%25283%2529.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-F46smN_KB8o/WDlJqhwQCEI/AAAAAAAAAJQ/dirqObmr0QYNHkLfPILgtum4ItSaNFIigCLcB/s72-c/untitled_design_all%2B%25283%2529.jpg
Official Sekolah Indonesia
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/makanan-pengantar-rasa-sayang.html
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/makanan-pengantar-rasa-sayang.html
true
4309508905467340601
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock