Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Membentuk Kebiasaan, Meninggalkan Kenangan

Dalam suatu obrolan dengan teman-teman para ibu dan bapak muda, salah satu pembahasan yang seru adalah kebiasaan-kebiasaan yang mereka lak...

Dalam suatu obrolan dengan teman-teman para ibu dan bapak muda, salah satu pembahasan yang seru adalah kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan bersama keluarga di masa lalu yang diingat sampai saat ini. 

Beberapa pengalaman sangat unik, misalnya ada seorang bapak muda yang ketika bapaknya gajian dulu, selalu punya ritual saweran kepada anak-anaknya. Jadi mereka, kakak beradik duduk di lantai, sementara ayah ibu duduk di sofa dan dilemparkanlah beberapa genggam uang logam hingga uang seribuan ke anak-anaknya, lalu anak-anak berebut dengan penuh kegembiraan. 

Dia menceritakan betapa peristiwa itu selalu ditunggu dengan tak sabar setiap bulannya. Ada lagi pengalaman menyenangkan, setiap ayah membangunkan salat Subuh setiap pagi, ayah menepuk-nepuk pipi sambil mendoakan hal-hal baik untuk anaknya. Saat ini dia melakukannya kepada anak-anaknya, dan mereka selalu bangun dengan tersenyum. Kunci Pengasuhan Salah satu kunci pengasuhan adalah membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan. Perilaku yang akan dibentuk harus dibiasakan dalam rutinitas sehari-hari. Dengan pembiasaan ini, anak akan merasa terikat dalam kegiatan. 

Pembiasaan yang berulang-ulang akan membentuk sambungan antar sel yang cukup kuat dalam otak anak. Semakin rutin suatu perilaku dilakukan, akan semakin kuat sambungannya, dan ini akan semakin terbentuk kebiasaannyanya. Untuk membentuk kebiasaan atas sebuah perilaku, perlu konsistensi perilaku orang tua. 

Peran orang tua dalam hal ini adalah mengatur jadwal dan kegiatan, sehingga perilaku positif secara konsiten dilaksanakan bersama-sama sebagai sebuah rutinitas atau pembiasaan. Menurut Pamela C Phepls, Phd, seorang pakar psikologi pendidikan dari The Creative Center for Childhood Reseach and Training, Inc, Thallahassee University, Florida, USA, kegiatan yang rutin akan memberikan rasa aman pada anak, karena ia jadi tahu apa yang harus ia lakukan, dan tahu apa yang berikutnya akan terjadi. Di dalam rutinitas, diperlukan adanya : 

1. Jadwal. Berisi waktu dan urutan kegiatan serta aturan perilakunya. 
Misalnya jadwal kegiatan sehari-hari, jadwal pembagian tugas, jadwal bermain dan sebagainya. 

2. Ritual. Berisi tahapan-tahapan perilaku dan seremonial. 
Misalnya kalau mau tidur harus cuci tangan kaki, sikat gigi dan ganti baju dulu, baca doa sebelum tidur, dicium pipi dan dahi, lalu dibacakan cerita, terakhir dimatikan lampunya. 

3. Tradisi. Perilaku yang diciptakan keluarga untuk menjadi pengikat, sehingga anak merasa bagian dari keluarga. Anak merasa terhubung dengan keluarganya. 
Misalnya tradisi berdoa bersama saat ada yang ulang tahun, tradisi berkumpul di rumah nenek saat lebaran, sungkeman saat hari raya dan sebagainya. 

Jadwal, ritual dan tradisi yang dilakukan membuat anak akan selalu mengingat apa yang harus dilakukannya dan bagaimana melakukannya, sehingga ia akan merasa ada yang hilang jika tidak dilakukan. Proses pembentukan perilaku ini merupakan bagian penting yang memberikan koneksi atau hubungan antara perilaku dengan perasaan “belongingness” dalam keluarga. Anak membutuhkan perasaan ini, sehingga bila tidak ia dapatkan dalam keluarga, maka ia akan mencarinya di komunitas lain (bersama temannya, atau kelompok tertentu) yang membuat ia merasa menjadi bagiannya. 

Oleh karena itu, setiap orang tua perlu menciptakan rutinitas, ritual dan tradisi yang menarik dan menyenangkan dalam keluarga masing-masing, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama orang tuanya. Perbanyak kegiatan positif dan kreatif yang membuat anak memiliki kemampuan untuk mengisi waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat. 

Misalnya masak bersama, berolah raga, membangun sesuatu, membuat kerajinan tangan, berkebun dan sebagainya. Bila anak terbiasa dengan kegiatan yang tidak produktif dan pasif, seperti nonton TV, main game dan lainnya, nantinya anak cenderung mengisi waktunya juga dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Anak akan mudah bosan dan akhirnya mudah tergoda untuk melakukan hal-hal negatif. Yang paling penting, semua hal yang positif dan menyenangkan itu akan menjadi kenangan yang akan mereka terapkan ketika mereka menjadi orang tua, kelak. (*)

COMMENTS

Name

Berita Cermin Edusiana Event informasi Karya Siswa Konsultasi Parenting Populer Prestasi
false
ltr
item
Official Sekolah Indonesia: Membentuk Kebiasaan, Meninggalkan Kenangan
Membentuk Kebiasaan, Meninggalkan Kenangan
https://4.bp.blogspot.com/-BWXNF9Z_29o/WDz1UZEZTyI/AAAAAAAAAKw/-cULDj8OvXMKz-oCUugEDjSQXu0cybELwCLcB/s320/orangtua%2B1.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-BWXNF9Z_29o/WDz1UZEZTyI/AAAAAAAAAKw/-cULDj8OvXMKz-oCUugEDjSQXu0cybELwCLcB/s72-c/orangtua%2B1.jpg
Official Sekolah Indonesia
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/membentuk-kebiasaan-meninggalkan.html
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/2016/11/membentuk-kebiasaan-meninggalkan.html
true
4309508905467340601
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock