Archive Pages Design$type=blogging$count=7

Anak Butuh Aturan

Seumur hidup Anda, berapa kali Anda melakukan kesalahan atau orang lain bilang bahwa Anda melakukan perbuatan yang salah atau melanggar ...

Seumur hidup Anda, berapa kali Anda melakukan kesalahan atau orang lain bilang bahwa Anda melakukan perbuatan yang salah atau melanggar aturan? Ada kemungkinan Anda sulit menjawabnya, karena sulit mengingatnya, atau justru sangat mudah menjawab “waahhh gak terhitung” karena seringnya melakukan pelanggaran. Saya yakin tak satupun di antara Anda yang berani mengaku “tidak pernah”. 

Kalimat “Manusia tempatnya salah” sudah sering kita dengar, dan kenyataannya memang demikian. Sejak kecil kita melakukan ‘kesalahan’ atau ‘pelanggaran’. Contoh paling mudah adalah ketika anak kita masih balita, dia senang sekali menyoret dinding, menarik taplak meja, mainan tidak dibereskan, dan sebagainya. 

Sebagian orang tua langsung ‘bertanduk’ menghadapi masalah ini dan langsung memarahi anaknya. “Kamu bandel sekali sih…gak bisa diam. Ibu sudah lelah membersihkan rumah, kamu enak- enak saja bikin berantakan”. Atau “Aduuh naaak, kok kamu tega sih mengotori rumah? Kan ibu sudah capai membersihkan rumah”. 

Anak kaget, bingung lalu langsung menangis atau cemberut sebal karena tidak tahu mengapa ibu marah. Lalu apakah dia akan mengulangi perbuatannya lagi? Kebanyakan ya. Lalu orang tua kembali merasa kesal dan marah, lalu dari mulutnya keluar kata-kata menyesali perbuatan anaknya, anaknnya ciut, menangis lagi, dan kali lain kembali melakukannya lagi. Pada banyak kasus, siklus itu berulang terus, hingga dewasa. 

Ajarkan Yang Benar dan Salah 

Jika kita bisa menyatakan perbuatan anak sebagai sebuah kesalahan atau pelanggaran, secara logika pasti ada yang benar, dan ada sebuah peraturan yang pernah Anda tetapkan. Pertanyaannya, apakah benar Anda pernah menetapkan mana yang benar, mana yang salah, mana yang boleh dan tidak? Apakah ketetapan itu, kalau sudah dibuat, pernah disampaikan kepada anak? Apakah penyampaiannya cuma sekali atau berkali-kali? Jika sudah menyampaikan pada anak, apakah Anda sudah cek pemahamannya? 

Banyak kasus pelanggaran terhadap peraturan di ruang publik yang kita lihat. Salah satu yang makin sering terjadi adalah anak-anak di bawah umur berkeliaran naik motor, bertiga, tanpa helm, ngebut di tengah lajur, belok seenaknya tanpa memberi sen, berhenti tiba-tiba, dan masih banyak pelanggaran yang mereka lakukan. 

Apakah anak-anak itu tahu, bahwa mereka melakukan pelanggaran? Belum tentu. Jangan-jangan orang tuanya sama sekali tidak pernah menyampaikan bahwa anak di bawah umur tidak boleh mengendarai motor. Bahkan mereka membolehkan anaknya naik motor, karena mereka sendiri tidak mengetahui aturan tersebut atau memutuskan mengabaikan peraturan tersebut. 

Beberapa orang tua datang kepada kami mengeluh tentang seringnya anak melakukan kesalahan. Setelah kami gali ke anak-anaknya, ternyata mereka bahkan tidak tahu bahwa itu melanggar. 

Contoh paling ekstrim adalah anak-anak (bukan usia remaja, tapi anak 7 tahun) yang melakukan (maaf) hubungan seksual di antara mereka. Mereka mengaku tidak tahu itu perbuatan apa, mereka mengaku hanya mencontoh apa yang mereka lihat di handphone yang ditunjukkan temannya.

Menurut mereka, tidak ada satupun orang tua atau siapapun yang pernah memberi tahu bahwa itu salah, bahwa itu tidak boleh. Anak, ketika dilahirkan memang sudah diberikan Allah perangkat yang lengkap untuk berperasaan, berpikir, bertindak dan mengambil keputusan. 

Namun, sesudah dilahirkan, kewajiban orang tualah untuk memperkenalkan dunia beserta isinya kepada anak-anak, beserta sikap yang harus diambil terhadap apa yang ada dan terjadi di dunia, berdasarkan nilai agama dan norma masyarakat serta norma keluarga. 

Singkatnya, anak harus diajarkan tentang apa yang benar apa yang salah, apa yang boleh apa yang tidak, apa yang baik dan apa yang buruk. Anak harus mengetahui bahwa hidup di dunia ada aturannya, agar ia selamat di dunia dan akherat. Orang tua perlu mengajarkan peraturan tersebut kepada anak sebagai panduan anak meniti hidupnya. 

Proses Pengajaran 

Kapan proses pengajaran itu berlangsung? Ya selama proses pengasuhan berlangsung, bahkan sejak anak dalam kandungan. Saya anjurkan agar Anda ubah keyakinan Anda, bahwa mereka akan atau bisa tahu sendiri.  

Segera renungkanlah, jika Anda menganggap sekolahlah yang harus memenuhi kewajiban itu. Tidak sekali dua saya mendengar ada orang tua yang berkata, “Lho buat apa saya menyekolahkan anak di sekolah bagus dan mahal kalau tidak diajarkan mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh dan tidak, mana yang benar mana yang salah?” 

Tugas siapakah sebenarnya untuk memberi guidance bagi anak agar selamat? Siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban jika anak melakukan pelanggaran, kelak?(*)

COMMENTS

Name

Berita Cermin Edusiana Event informasi Karya Siswa Konsultasi Parenting Populer Prestasi
false
ltr
item
Official Sekolah Indonesia: Anak Butuh Aturan
Anak Butuh Aturan
https://4.bp.blogspot.com/-2tpqKqg7SD8/WD4mA9zOMnI/AAAAAAAAALQ/E4XyAwwONvIzrAZFJFYngLTUdAOKQsDnACLcB/s1600/aturan.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-2tpqKqg7SD8/WD4mA9zOMnI/AAAAAAAAALQ/E4XyAwwONvIzrAZFJFYngLTUdAOKQsDnACLcB/s72-c/aturan.jpg
Official Sekolah Indonesia
http://www.sekolahindonesia.id/2016/12/anak-butuh-aturan.html
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/
http://www.sekolahindonesia.id/2016/12/anak-butuh-aturan.html
true
4309508905467340601
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock